topmetro.news – Bendungan Lau Simeme di Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deliserdang yang mempunyai kapasitas tampung sebesar 22 juta meter kubik bertujuan untuk mengendalikan derasnya aliran air di hulu Sungai Percut dan Sungai Deli, mulai dikerjakan.
Proyek berbiaya Rp1,55 triliun juga sebagai pengendalian banjir Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang sempat tertunda selama 23 tahun akibat pembebasan lahan.
Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat Komisi D DPRD Sumut dengan BWSS II (Balai Wilayah Sungai Sumatera II) , Pemkab Deliserdang dan BPN (Badan Pertahanan Nasional), dipimpin Wakil Ketua komisi Fahrizal pada hari hari Selasa (6/2/2018) di gedung dewan.
Anggota Komisi D, antara lain, Darwin Lubis, Yantoni Purba, Leonard S Samosir, Indra Alamsyah mengingatkan BWSS II agar serius mewujudkan proyek bendungan Lau Simeme, karena proyek tersebut sudah ditenderkan Januari 2017.
“Kita minta proyek ini serius dikerjakan, dengan menyelesaikan pembebasan lahan warga yang belum tuntas agar,” ujar Darwin.
Karena, lanjut Darwin, lahan yang terkena proyek Bendungan Lau Simeme secara dejure merupakan lahan negara, tapi secara defakto sudah jadi permukiman masyarakat sudah tiga generasi. Perlu dicari solusi untuk penyelesaiannya, agar proyek besar itu tidak lagi tertunda-tunda.
Pembebasan Lahan
Kepala BWSS II Roy Panagom Pardede memastikan proyek Lau Simeme dikerjakàn tahun 2018 diawali dengan pembebasan lahan seluas 20 ha untuk tapak bangunan, jalan masuk dan jalan kerja dan sisanya paralel untuk konstruksi.
“Pembebasan lahan sedang diverifikasi BPN butuh waktu 1 bulan dan untuk tim penilaian dilelangkan dalam waktu 1 bulan,” ujarnya.
Dalam pembebasan lahan, katanya, masyarakat bersedia, karena ada pergantian yang wajar dan tim appraisal yang menilai berapa pergantian yang wajar.
“Kita akui pernah terkendala masuk ke lokasi untuk pembebasan lahan, karena penyampaian informasi yang salah ke masyarakat disebutkan tidak ada pergantian, tapi kami jelaskan tetap ada pergantian terhadap lahan yang dikuasai warga totalnya 400 ha,” ujarnya.
Kabag Pemerintahan Pemkab Deliserdang Binsar Sitanggang menyebutkan, rencana proyek pembangunan Lau Simeme sudah beritahukan sejak tahun 2016, sudah sosialisasi dengan 200 KK di Sibiru-biru dan setuju dengan pembangunan bendungan yang merupakan proyek strategis nasional.
“Selanjutnya, ditetapkan lokasi sesuai keputusan Bupati Deliserdang untuk pengadaan tanah pembangunan bendungan ini menjadi dasar BWSS lakukan upaya selanjutnya. Mamun Pemkab diingatkan, jangan ada pembangunan nasional, tapi rakyat melarat,” ujarnya.
Dua Dusun Hilang
Binsar menambahkan, lokasi proyek merupakan hutan produksi tetap tapi fakta di lapangan sudah tiga generasi masyarakat bermukim di lima desa dan bercocok tanam. Kalau proyek terlaksana ada dua dusun hilang, Dusun Kuala Saba Desa Kuala Deka sekitar 30 KK dan posisinya dibawah akan terendam, sehingga warga mendukung proyek dengan pergantian.
“Bendungan ini juga bermanfaat untuk suplai air baku kepada PDAM Tirtanadi dengan kapasitas 3.000 liter per detik, sumber irigasi Bandar Sidoras seluas 3.082 hektare dan daerah irigasi Lantasan 185 hektare,” pungkas Binsar.(TM/Erris)

